JAKARTA, JBP - Gabungan Aktivis Lintas
Elemen menemui Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Puluhan aktivis
tersebut menyampaikan tiga tuntutan yang disampaikan secara langsung kepada
LaNyalla. Tuntutan pertama, mereka meminta DPD RI mendukung gerakan rakyat yang
menolak kenaikan BBM.
Kedua, membentuk Panitia Khusus (Pansus) Reformasi Polri dan ketiga,
menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan investigasi
harta kekayaan pejabat dan mengumumkannya kepada publik. Pada pertemuan itu,
Ketua DPD RI didampingi Senator Habib Ali Alwi (Banten) Bustami Zainuddin
(Lampung) dan Staf Khusus Ketua DPD RI, Sefdin Syaifudin.
Sedangkan aktivis lintas elemen yang hadir di antaranya Haris Rusly Moti
(Petisi 28), Wenry AP (Forum Merah Putih), M Hatta Taliwang, Jhon Mempi, Doni
(Matekkon), Yosef Nggarang (Gerakan Kedaulatan Rakyat), Rahman Toha (Inside),
Chaerudin Affan (Puskamuda), Urai Zulhendri, Hartsa Mashirul (UN WCI Campaign),
Zulkifli S Ekomei (Presidium MPBI), Gigih Guntoro (Indonesian Club) dan Ariandy
A.
Aktivis Petisi 28, Haris Rusly Moti menyampaikan, apa yang disampaikannya
merupakan kegelisahan rakyat pada umumnya. "Kami ini merupakan
representasi rakyat di daerah. Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM
direspon oleh gelombang penolakan rakyat di seluruh daerah. Kami meminta agar
DPD RI di bawah kepemimpinan LaNyalla untuk mendukung gerakan rakyat
tersebut," kata Haris, Selasa (6/9/2022).
Dikatakan Haris, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM tak dibarengi dengan
standing moral untuk hidup prihatin. "Jokowi seakan memaksa rakyat untuk
memikul beban pemerintah dengan mencabut subsidi BBM," kata dia.
Di sisi lain, para pejabat tak ada yang sama sekali memberikan contoh kepada
masyarakat untuk hidup secara sederhana. Mestinya harus dimulai dari memberikan
contoh hidup sederhana sebelum memutuskan untuk menaikkan BBM.
"Agar standing moralnya kuat, maka kami mendorong agar dilakukan audit
kekayaan harta para pejabat dari pusat hingga daerah dan diumumkan kepada
publik. Kami mendesak Jokowi membentuk tim audit investigasi harta dan kekayaan
para pejabat. Kami meminta Ketua DPD RI menyampaikan hal ini kepada Presiden
Jokowi," pinta Haris.
Haris juga meminta agar DPD RI tak menutup mata terhadap proses reformasi di
tubuh Polri. Apalagi, berksitan dengan kasus pembunuhan Brigadir J oleh Irjen
Ferddy Sambo yang menggegerkan publik, Haris menilai sulit Polri melakukan
reformasi secara internal.
"Jadi, kami mendorong agar DPD RI membentuk Pansus Reformasi Polri. DPD RI
tak boleh menutup mata terhadap hal tersebut. Sebab, reformasi Polri adalah
hasil perjuangan berdarah-darah mahasiswa pada 1998," urai Haris.
Aktivis UN WCI Campaign, Hartsa Mashirul menambahkan, aspirasi penolakan
kenaikan harga BBM ini disampaikan karena memang rakyat mengalami kebuntuan
dalam menyalurkan pendapatnya. "Maka, membludak-lah aksi unjuk rasa di
berbagai daerah sebagai saluran aspirasi," ujar Hartsa.
Hartsa menilai pemerintah seperti memberikan subsidi kepada para koruptor
lantaran tak bergerak cepat melakukan pembenahan internal dari praktik korupsi.
"Tahun 2020, APBN kita yang dikorupsi itu lebih dari Rp56 triliun.
Sedangkan subsidi rakyat untuk BBM hanya Rp11 triliun. Tentu ini kejahatan
terhadap rakyat jika dibiarkan," tegas Hartsa.
Pada kesempatan itu, Hartsa juga menyinggung soal kejahatan trans-nasional yang
berkaitan dengan perjudian, perdagangan orang, pencucian uang, narkotika dan
lain sebagainya yang dapat mempengaruhi kredibilitas Indonesia di mata dunia.
"Ada satu kebuntuan mengurai dan menuntaskan kejahatan keuangan dan
kemanusiaan yang sifatnya transnasional," tegas Hartsa.
Aktivis Puskamuda, Chaerudin Affan berpendapat, bahwa DPD RI harus menyatakan
pendapat secara terbuka mengenai sikapnya soal kebaikan harga BBM, reformasi
Polri dan audit investigasi harta kekayaan pejabat. "Berkenan kiranya agar
disampaikan kepada publik secara terbuka mengenai sikap DPD RI ini," kata
Chaerudin.
Menanggapi hal tersebut, Senator Bustami Zainuddin siap meneruskan aspirasi
yang disampaikan oleh para aktivis lintas elemen tersebut. Terkhusus soal
Pansus Reformasi Polri, Bustami menilai akan dikaji terlebih dahulu soal
relevansinya.
"Kami akankaji terlebih dahulu mengenai Pansus Reformasi Polri ini. Apakah
harus pansus atau lainnya," kata Bustami. Sedangkan Senator Habib Ali Alwi
mengakui jika negara ini keliru dalam mengambil kebijakan. "Sehingga salah
atur dan salah pengelolaan. Padahal, kekayaan bangsa ini sangat cukup untuk
menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia," tegas Habib Ali Alwi.
Terkhusus kenaikan harga BBM, Habib Ali Alwi menyayangkan hal tersebut.
Menurutnya, masih ada skema lain yang bisa diambil pemerintah selain mengurangi
subsidi yang menjadi hajat hidup orang banyak. "Saya menilai tak ada
alasan untuk menaikkan harga BBM, karena dampaknya yang sangat dahsyat bagi
masyarakat. Pemerintah perlu membuat skema lain selain menaikkan harga
BBM," tegas Habib Ali Alwi.
Ketua DPD RI menegaskan, yang seharusnya dihapus itu adalah korupsi, bukan
subsidi. Karena subsidi adalah amanat Pancasila dan tertulis di pembukaan
konstitusi sebagai bagian dari cita-cita dan tujuan nasional negara ini.
“Negara ini lahir untuk melindungi tumpah darah, mencerdaskan kehidupan dan
memajukan kesejahteraan rakyatnya. Hal itu dilakukan dengan memastikan
rakyatnya tidak semakin menderita dan miskin," tegas LaNyalla.
Ditambahkan, jika kenaikan harga BBM akan membuat rakyat semakin menderita dan
menambah jumlah kemiskinan, maka itu tidak boleh ditempuh oleh pemerintah
sebagai kebijakan. Apalagi diyakini BLT belum 100 persen menjawab persoalan.
“Seolah subsidi untuk kepentingan hajat hidup orang banyak itu optional
(pilihan, red). Bisa dicabut sebagai pilihan. Itu karena kita memahaminya
sebagai subsidi. Padahal itu kewajiban negara. Apakah nanti BLT juga akan
terus-menerus? Mungkin tidak juga. Jadi perlahan-lahan bisa dihentikan juga,”
imbuhnya.
Tokoh berdarah Bugis yang besar di Surabaya ini, mengingatkan bahwa kewajiban
negara adalah untuk memastikan rakyat, sebagai pemilik kedaulatan yang sah,
dapat mengakses kebutuhan hidupnya dengan layak. Dan semakin hari semakin
sejahtera. Bukan semakin susah. Apalagi sampai bunuh diri karena kemiskinan.
“Jangan menambah paradoksal yang sekarang semakin banyak. Justru yang wajib
dilakukan pemerintah adalah menghilangkan total korupsi yang membebani APBN
kita. Jangan kemudian memberi perlindungan rakyat dianggap membebani APBN.
Sementara bayar bunga utang sekitar 400 triliun rupiah setahun pemerintah tidak
mengeluh,” ungkapnya.
LaNyalla mengaku tetap konsisten memperjuangkan aspirasi rakyat. Hal itu
ditegaskannya ketika judicial review Presidential Threshold ditolak oleh pemerintah.
"Saat itu saya sedang berada di Makkah. Saya berkomitmen, sekembalinya
saya ke Indonesia, saya akan pimpin sendiri gerakan pengembalian kedaulatan
rakyat kembali ke tangan rakyat," tegas LaNyalla.
Seluruh persoalan rakyat, ditambahkan LaNyalla, dapat dituntaskan jika kita
kembali kepada UUD 1945 naskah asli, untuk disempurnakan secara benar melalui
adendum. "Maka, saya telah membuat peta jalan kembali kepada UUD 1945
naskah asli. Saya harap agar hal ini dapat diresonansikan ke seluruh lapisan masyarakat
agar menjadi kesadaran bersama," harap LaNyalla.
(*) JBP